2 malam yg lalu, saya habis minum es jeruk termahal di dunia. Es jeruk termahal? Kenapa emangnya? Biasanya es jeruk kalau di tenda pecel lele dan rumah makan kecil harganya sekitar Rp6000. Tambah sedikit deh kalau kita makan di resto yang kelasnya lebih “atas” (atas tempatnya & harganya, maksudnya.. belum tentu rasa makanannya ya hehehe). Yang ini.. hmm… harganya berapa ya?? Yg jelas, berkali2 lipat lebih mahal daripada yg biasa.
Lantas, kenapa jadi es jeruk termahal di dunia? Apa karena pakai jeruk yg khusus? Jeruk impor? Gula impor? Es batu langsung dari Pegunungan Alps? Air putih yg lebih wah dari sejenis E*ian? Sorry, but nope.
Jeruk lokal beli dari pasar, Rp15.000 untuk 2 kg. Gula lokal. Air biasa dari rumah. Tapi…. tempo hari beli ke pasar sama2 Hubby & Botchan. Trus pulang dari pasar, Hubby buatin deh es jeruknya, diperas sendiri, diracik sendiri. Botchan disuruh nonton Papanya sembari buat– dia duduk di atas counter dapur from his “look-out point”
Dan hasilnya??? Yummm…just fresh! Dan es jeruk paling “mahal” buat aku.. just because hubby made it for me (well, for the whole family actually, for Botchan especially ;p ). Niat & usahanya itu yg membuat “mahal”. Hands down I prefer hubby’s cooking compared to any fancy resto’s. Jarang2 lho sekarang hubby masak karena di sini jarak rumah-kantor jauhhh (plus macet) dan wiken yang seringnya pergi2 memenuhi “kewajiban keluarga & sosial lainnya”. So with this post, I just wanna show hubby how much I appreciate what he does.. bahkan es jeruk pun sangat berarti. (i love you, i really do.).
*dan waktu berikutnya aku memeras jeruk, Botchan udah semangat 45 mau “bantuin” Mamanya– which, he understands already what to do, just doesn’t yet have the fine motor coordination skills to do it neatly
mau donk es jeruknyaaaaaaaaaaa…
kangen ga ma jeruknya matsuyama?????????